Selain memiliki ciri, sikap, dan tanggung jawab, ilmuwan tentunya mempunyai
peran dan fungsi. Berikut adalah peran atau fungsi ilmuwan yang berkaitan
langsung dengan aktivitasnya sebagai ilmuwan, meliputi:
Ciri yang menonjol pada ilmuwan terletak pada cara
berpikir yang dianut serta dapat dilihat pula pada perilaku ilmuwan tersebut.
Para ilmuwan memilih bidang keilmuan sebagai profesi, dengan demikian harus
tunduk pada wibawa ilmu karena ilmu merupakan alat yang paling mampu untuk
dimanfaatkan dalam mencari dan mengetahui kebenaran.
Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah
cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada satu bidang
telaahan yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan saksama menyebabkan
obyek forma (ontologis) dari displin keilmuan menjadi kian terbatas.
Diperkirakan sekarang ini terdapat sekitar 650 cabang keilmuan yang kebanyakan
belum dikenal orang-orang awam.
Kebenaran yang
dicari manusia dapat dicapai dengan berbagai cara.Di antara sekian banyak
sumber, rasio dan pengalaman inderawi merupakan sumber utama sekaligus ukuran
kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Sumber lain seperti yang dikatakan oleh Ansar
Bahtiar adalah iluminasi atau intuisi. Selain itu, agama dan dogma termasuk sumber kebenaran.Karena keaneka ragaman
sumber tersebut, maka kebenaran itu terbagi atas beberapa macam tingkatan,
tergantung dari segi mana orang berpijak untuk membaginya.
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam
mengorientasikan diri dalam dunia. Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut secara
hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin,
semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Dengan demikian
ilmu-ilmu khusus tidak menggarap pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut manusia
sebagai keseluruhan, sebagai suatu kesatuan yang dinamis. Dalam hal ini,
peranan filsafat terhadap semua disiplin ilmu termasuk psikologi, hanya sebagai
penggagas dan peletak dasar, dan selanjutnya ilmu-ilmu itulah yang berkembang
sesuai dengan objek kajianya masing-masing.
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita
oyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh
subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai
dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Kata “kebenaran”
berasal dari kata “benar” yang memperoleh awalan ked an
akhiran an yang berarti cocok dengan keadaan sesungguhnya, tidak bohong,
atau sah. Dan kata kebenaran itu sendiri berarti keadaan (hal tersebut) yang
benar (cocok dengan atau keadaan yang sesungguhnya).Sidi Gazalba memberi pengertian ‘kebenaran’ dengan
mengemukakan lawan katanya, karena itu menjadi jelas, manakala itu dihadapkan
pada lawan dan kita susulkan artinya. Mudhar Ahmad mengatakan bahwa kata “benar” menyatakan
kualitas keadaan atau sifat sebenarnya sesuatu. Semua itu bisa berupa
pengetahuan (pemikiran) atau pengalaman (perbuatan).